Kamis, 09 Juni 2011

GOMBALISASI TELEVISI TERHADAP GAYA HIDUP ANAK
oleh ZAIUL KHAQ


Televisi adalah salah satu media hiburan dan informasi yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat kita. Kemampuan audiovisual telah membuat televisi unggul dibanding dengan media informasi lainnya. Namun kita perlu khawatir berkenaan dengan dampak negatif televisi. Melalui acara-acara yang miskin akan unsur edukatif, nilai-nilai buruk yang jauh dari standar moralitas dapat tertanam pada diri para pemirsa. Berkaitan dengan hal tersebut anak-anak merupakan kelompok paling rentan terkena pengaruh hal-hal buruk yang ditonjolkan melalui tayangan-tayangan televisi.
Akhir-akhir ini banyak bermunculan tayangan televisi yang asal jadi, bahkan tidak lagi mengindahkan unsur edukasi. Semestinya, acara-acara yang tidak memberikan kontribusi positif pada pemirsa harus dibatasi. Jika dilirik sepuluh tahun kebelakang, televisi masih memegang fungsi sebagaimana mestinya. Tapi kini, masyarakat terus-menerus dicekoki tayangan yang dapat merusak gaya hidup (life style). Betapa besar pengaruhnya, terlebih jika orang tua tidak mengontrol apa yang dilihat anaknya. Jangan dulu bangga jika anak kecil kita suka menonton film kartun, karena tak semua film kartun bisa dinikmati dan tidak sedikit film kartun yang mencontohkan adegan kekerasan.
Salah satu televisi swasta menayangkan sebuah film kartun yang sangat populer saat ini dengan menampilkan seorang anak laki-laki sebagai tokoh utamanya, dan nama anak itu dijadikan sebagai judul dari film kartun tersebut. Dalam film tersebut dia ditampilkan sebagai anak nakal yang selalu membuat kacau dan selalu merepotkan orang tuanya, dan menyukai wanita-wanita dewasa. Mungkin bagi beberapa orang film kartun tersebut menghadirkan kelucuan, tapi sadarkah kita karakter buruk yang dimiliki tokoh tersebut dapat tertanam dalam diri anak-anak yang menyaksikannya. Kekerasan juga sering menghiasi adegan-adegan yang terdapat dalam film-film kartun yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi. Tentunya tidak hanya film kartun saja yang berpeluang menanamkan hal-hal buruk pada diri anak. Beberapa tayangan yang menonjolkan unsur-unsur mistis juga bisa memberikan pengaruh yang tidak baik. 
Mungkin ini imbas dari determinisme teknologi dan konvergensi media. Sebagai media komersil, tentunya tidak begitu mementingkan aspek normatif. Dilihat dari banyaknya stasiun televisi yang berlomba-lomba menciptakan acara-acara yang dikemas sedemikian rupa, seperti reality show. Tidak banyak stasiun televisi yang menayangkan acara-acara bertemakan sosial.
Sebagian masyarakat Indonesia masih terbelenggu dengan hal-hal yang sifatnya diikuti kebanyakan orang. Jika tidak mengikuti hal tersebut maka dikucilkan. Tanpa disadari dengan kita menonton film atau serial komedi, kita sering tertawa terbahak-bahak dengan adegan yang diperankan. Bahkan, saat ini bermunculan film-film yang menyesatkan. Seolah-olah penonton dibuat tak berdaya.
Tidak sedikit orang yang menghabiskan waktunya untuk menonton televisi. Karena suguhan acara yang menghibur, mereka tetap enjoy didepan layar televisi. Banyaknya tayangan yang asal jadi membuat miris anak-anak kecil yang sedini mungkin sudah diajarkan hal-hal yang tak mendidik.
Anehnya, acara-acara seperti serial komedi lebih dinikmati oleh para pemirsa. Padahal isinya tak sebagus acaranya. Yang dikedepankan adalah sosok dan lawakan semata. Bahkan dibarengi dengan adegan kasar dan kata-kata yang tak pantas. Meskipun ada stasiun televisi yang menampilkan bahwa properti yang digunakan terbuat dari bahan yang tidak berbahaya. Permasalahannya bukan pada alat yang tidak berbahaya itu, tapi adegan yang dilakukan memicu penonton untuk melakukan hal serupa.
Teori Kultivasi berasumsi bahwa media khususnya televisi merupakan sarana utama seseorang belajar tentang kehidupan (masyarakat) dan kultur yang melingkupinya. Melalui televisi pemirsa belajar kehidupan orang lain atau kultur (budaya) orang lain.
Harusnya Komisi Penyiaran Indonesia bertindak tegas mencegah dan menyensor tayangan-tayangan televisi yang tidak bermutu. Munculnya tayangan yang tidak bermutu bukan karena sudah tidak kreatif lagi, melainkan masyarakat Indonesia menyukai hal-hal yang demikian.
Lebih parahnya lagi, kini bukan pemirsa yang mengendalikan televisi, tapi televisi yang mengendalikan pemirsa. Seolah-olah enggan beranjak dari depan layar televisi. Ini karena tayangan tersebut sudah membius secara perlahan. Dulu, setiap sore menjelang maghrib anak-anak ramai-ramai pergi ke masjid, tapi kini berubah jadi memegang remote control secara asik mengganti channel yang disukai dan merasa puas setelah menonton tayangan tersebut.
Apa yang dilakukan seseorang pada penggunaan (uses) media untuk mendapatkan kepuasan (grativications) atas kebutuhan seseorang. Secara psikologis dan sosial, Uses And Grativications meneliti asal mula kebutuhan yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain.
Blumer dan Gurevitch menjelaskan bahwa khalayak dianggap aktif, komunikasi massa inisiatif untuk, memuaskan khalayak, media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhan khalayak. Khalayak adalah insan yang mengerti. Sementara, penilaian artikultural media massa harus ditangguhkan sebelum diteliti terlebih dahulu orientasi khalayak atau pemirsa.
Dengan kata lain, pemirsa jangan mudah digombali begitu saja dengan suguhan tayangan yang tidak ada manfaatnya. Dan harus pintar-pintar memnilih tayangan yang bisa memberikan inspirasi bagi diri kita. Terlebih orang tua, harus pandai-pandai mengawasi acara televisi yang dilihat anaknya yang masih kecil. Jangan mudah terpancing dengan tayangan yang menyampaikan pesan-pesan negatif melalui bahasa non verbal, maupun adegan.
Semestinya kita harus lebih cermat dan cerdas dalam memilih tayangan-tayangan televisi untuk ditonton. Tidak semua acara bisa memberikan pengaruh buruk. Masih ada tayangan-tayangan yang dapat memperkaya pengetahuan dan dapat dijadikan sebagai cermin dalam beretika. Karena itu kita harus selektif. Temani dan bimbing anak-anak ketika meyaksikan tayangan-tayangan kesukaan mereka. *(ZK)


Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Jurnalistik semester 6
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar