Minggu, 19 Juni 2011

SINETRON DAN REMAJA

Kemunculan kebebasan pers di era Reformasi ini diikuti oleh kemunculan  kebebasan bermedia pula, dengan munculnya siaran-siaran baru, acara-acara dengan format baru dalam dunia pertelevisian. Media elektronik televisi termasuk ke dalam media massa karena sifat informasinya yang konvergen. Informasi dapat diterima secara bersamaan oleh khalayak lebih dari satu orang. Menurut Jalaluddin Rakhmat, definisi komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. (Psikologi Komunikasi)
Dalam program televisi-televisi swasta acara-acara yang disuguhkan pun semakin kini semakin semarak dan beragam, mulai dari program berita hingga program televisi lainnya. Hampir secara keseluruhan program televisi diramu dan dirancang untuk menghibur pemirsa. Positifnya, pemirsa televisi pun mendapatkan banyak pilihan acara. Namun sayangnya, kebebasan juga berimbas kepada tidak terkontrolnya acara-acara yang disuguhkan. Mulai dari tidak terkontrol dalam jam penayangannya sampai kontrol mutu dari acara itu sendiri.
Televisi juga merupakan media komunikasi paling efektif untuk menyampaikan pesan dan mempengaruhi orang lain. Jika mengamati setiap keluarga yang ada, maka salah satu barang pokok yang ada di setiap keluarga adalah televisi. Saat ini, hampir seluruh keluarga memiliki televisi atau tidak akan sempurna juga ada sesuatu yang kurang bila di rumah kita tidak ada pesawat televisi. Dengan kata lain, akses informasi melalui televisi mampu diterima oleh hampir setiap keluarga yang memiliki televisi.
Beragam acara ditawarkan oleh stasiun televisi. Acara yang mendominasi di stasiun televisi adalah sinetron. Secara umum, hampir sebagian besar slot waktu stasiun TV didominasi oleh sinetron. Tayangan-tayangan sinetron yang notabene berisikan drama remaja dan drama rumah tangga ini dapat dikatakan sebagai “primadona”. Bahkan setiap stasiun televisi Indonesia dapat menayangkan minimal tiga hingga empat judul sinetron perharinya yang kesemuanya berisikan pamer harta, hura-hura, dan konflik keluarga yang tiada ujung bahkan cenderung mengada-ngada. Waktu penayangan sinetron mulai dari prime time atau waktu yang menjadi waktu utama hingga pagi hari ketika aktivitas luar rumah tinggi.

Penayangan sinetron di waktu utama memiliki berbagai implikasi terhadap masyarakat khususnya para remaja. Penonton disuguhkan dengan tayangan sinetron di waktu mereka memiliki kesempatan untuk menyaksikan televisi baik secara individu maupun bersama keluarga. Sehingga mungkin sekali sinetron untuk mencapai rating tinggi.
Ketika melihat merebaknya berbagai sinetron saat ini, disadari atau tidak kita sedang mengarah kepada pembentukan sistem nilai sesuai dengan apa yang ditampilkan di dalam sinetron tersebut. Ketika ditampilkan konflik si kaya dan miskin, seorang kaya dikesankan dengan kemewahan dan kekuasaan yang diukur dari banyaknya harta dan tingginya jabatan. Sedangkan si miskin ini hidup dengan seadanya dan kekurangan secara materi. Padahal kemiskinan itu tidak semata diukur dari materi saja. Hal tersebut seperti menyampaikan sistem nilai yang dibawa oleh kapitalisme bahwa siapa yang kaya dia adalah orang yang memiliki banyak harta. Hanya sedikit sinetron yang mengajarkan kekayaan hati. Sinetron ini menggambarkan kekayaan yang tidak diukur melalui harta semata-mata, seperti Si Doel dan Keluarga Cemara.
Beberapa jenis sinetron yang ada di TV Indonesia saat ini membawa dampak negatif bagi pemirsa. Tayangan yang membawa cerita mistik mengarahkan kepada keterbelakangan mental dan syirik terhadap Sang Maha Pencipta. Keterbelakangan mental dalam hal ini adalah menggambarkan betapa hebatnya jin dengan kekuatan-kekuatannya sehingga manusia seolah menjadi takut dan mendorong manusia takut.
Selain itu, jenis sinetron yang membawa dampak buruk adalah sinetron dengan unsur cinta yang kuat. Dalam hal ini sistem nilai kembali mengalir deras. Sepasang anak muda dibuat tidak berdaya dan putus asa karena dipisahkan dengan kekasihnya. Di antara persoalan hidup lain, cinta digambarkan sebagai sebuah persoalan hidup yang amat sulit. Tidak tampak usaha yang keras untuk bertahan hidup dan kerja keras dalam bertahan hidup.
Sifat sinetron yang mencerminkan kebudayaan pop yang ringan dan mudah dicerna tanpa harus berfikir telah membuat masyarakat Indonesia (dalam hal ini adalah remaja) memposisikan sinetron sebagai hiburan dan ajang untuk melihat trend yang berkembang dikalangan remaja.

Media massa merupakan dasar bagi apa yang disebut sebagai “industri budaya”. Semua pesan yang dipropagandakan oleh media massa membentuk kesadaran manusia dan membagi arti pesan tersebut kepada mereka, sehingga manipulasi pesan dalam media massa merupakan strategi yang efektif untuk menasehati dan memberikan pengawasan.
Bagi para remaja, sinetron memang rujukan hiburan yang menyenangkan. Tanpa harus kemana-mana mereka mendapatkan pelarian dari kepenatan dalam menjalankan hari-harinya. Mereka tidak menyadari bahwa televisi dapat merusak diri mereka karena dampak dari televisi tidak dapat dirasakan secara langsung, melainkan setahap-demi setahap.
Dalam usianya yang masih labil dan masih dalam tahap pencarian jati diri, televisi dapat menuntun para remaja untuk bertingkah laku serta bersifat seperti tayangan yang telah disuguhkan. Dengan bahasa lain remaja itu bersikap imitasi, sugesti serta identifikasi.
Yang perlu kita cermati dari sinetron adalah pengkondisian untuk membenarkan sesuatu yang salah atau tidak wajar. Apalagi dalam ilmu komunikasi berlaku azas di mana kesalahan bisa menjadi maklum jika diopinikan terus-menerus sebagai sesuatu yang benar dan wajar. Karena itulah dengan kondisi seperti ini maka budaya poplah yang mendorong sikap hedonis dan oportunis pun dapat menjadi benar. Efek inilah yang menyebabkan perubahan sosial pada remaja, dalam hal ini adalah perubahan tingkah laku
Tema-tema sinetron acara reality show yang bernafaskan  religi mendorong orang untuk percaya bahwa ada makhluk selain jin dan manusia, yaitu turunan setan seperti pocong, hantu, dan kuntilanak. Padahal Allah menegaskan di dalam kitab suci Al-Qur’an bahwa Allah tidak menciptakan selain jin dan manusia. Allah berfirman “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”Adz Dzaariyaat : 56 Menimbulkan kesyirikan dengan percaya kepada selain Allah. Dan menyelesaikan masalah ghaib ini dengan perantara manusia yang memiliki kemampuan supranatural.
Film-film dengan tema religi juga sifatnya hanya mengejar profit semata dengan minim perhatian terhadap pesan yang disampaikan. Banyak sisi religi justru berbeda dengan ajaran agama itu sendiri. Sebagai contoh adalah adegan-adegan di dalam film religi berlabel hikmah. Film tersebut menampilkan balasan terhadap orang-orang yang telah berbuat kemunkaran di dunia. Padahal siksaan bagi orang-orang yang berbuat kemunkanran berada di akhirat. Artinya apa yang terjadi di dunia merupakan ujian dan azab dan tidak azab tersebut tidak selalu sebuha hubungan sebab akibat. Ada pula adegan yang menampilkan pegangan tangan antara laki-laki dan perempuan bukan mukhrim.
Tema Cinta dalam sinetron dan reality show, mengecilkan persoalan hidup sesungguhnya. Seolah di dunia ini masalah terbesar adalah persoalan cinta. Konflik yang terjadi pun seputar cinta. Padahal di Indonesia tema yang seharusnya diangkat adalah kondisi realita bangsa ini, yaitu masalah kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat. Agar masyarakat dapat memiliki daya juang untuk memperbaiki kondisi perekonomian.
Bangsa kita diajarkan untuk berpikir singkat (instan). Seolah ukuran kesuksesan seseorang diukur dari banyaknya harta yang dapat terlihat dari rumah megah, mobil mewah, dan istri yang cantik. Hal yang sering ditampilkan oleh sinetron adalah anak-anak muda dengan penampilan necis yang memiliki “harta” melimpah, rumah megah, dan memiliki posisi di puncak kariernya tanpa asal usul yang jelas. dak sesuai dengan kemyataan sehingga menimbulkan keputusasaan.
Secara umum sinetron hanya menjual fisik tanpa kualitas peran. Padahal insan seni adalah orang-orang yang menghargai karya seni dan mengemas karya tersebut menjadi sebuah tampilan yang menarik. Tetapi pada kenyataannya seni peran di dalam sinetron lebih mengedepankan tampilan fisik pemeran bukan pada kemampuan seni peran aktor dan artis. Seperti banyak wajah-wajah “impor” yang dominan di layar kaca sekarang ini. Banyak artis baru yang bermunculan tanpa memiliki kualitas dan hanya bermodal paras semata.
Dampak dari sinetron juga mendorong masyarakat berperilaku konsumtif. Derasnya adegan yang memberikan contoh gaya hidup mewah dan mengutamakan penampilan fisik. Mengesankan bangsa Indonesia bangsa yang makmur dan suka kemewahan. Tidak membawa budaya lokal bangsa atau pun budaya timur yang santun dan memiliki etika dalam berbusana sehingga terkikisnya dengan gaya busana barat yang terbuka. Berbeda implikasinya dengan apa yang akan diperoleh oleh remaja ABG. Kehidupan sebagian sinetron yang menampilkan kehidupan yang seperti di atas membawa remaja ke dalam kehidupan fantasi yang luar biasa, kehidupan dianggap mudah dan sederhana. Dalam usianya yang masih labil dan masih dalam tahap pencarian jati diri, televisi dapat menuntun para remaja untuk bertingkah laku serta bersifat seperti tayangan yang telah disuguhkan. Dengan bahasa lain remaja itu bersikap imitasi, sugesti serta identifikasi.
Bagi pihak televisi diharapkan agar lebih kreatif dalam memproduksi sinetron ataupun tayangan-tayangan lain agar dapat menghasilkan produk sinetron yang bersifat entertainment yang dapat memenuhi pundi-pundi uang mereka namun tetap berkualitas serta education oriented. Dalam hal ini pihak televisi diharapkan untuk memberi sedikit ruang kepada idealisme moral. Yang perlu kita cermati dari sinetron adalah pengkondisian untuk membenarkan sesuatu yang salah atau tidak wajar. Apalagi dalam ilmu komunikasi berlaku azas di mana kesalahan bisa menjadi maklum jika diopinikan terus-menerus sebagai sesuatu yang benar dan wajar. Karena itulah dengan kondisi seperti ini maka pengejawantahan budaya pop yang mendorong sikap hedonis dan oportunis pun dapat menjadi benar. Efek inilah yang menyebabkan perubahan sosial pada remaja, dalam hal ini adalah perubahan tingkah laku
Pemerintah juga diharapkan proaktif dalam penyelesaian masalah ini. Pertama, pemerintah harus lebih selektif lagi dalam memilih sinetron yang akan ditayangkan. Hingga hanya sinetron yang cerdas berkualitaslah yang dapat menembus saringan ini. Kedua, untuk mengukuhkan cara pertama, negara harus berani menolak sekularisme dan melawan kapitalisme. Mengapa melawan kapitalisme? Karena kapitalismelah yang mendukung pihak televisi dalam menayangkan sinetron-sinetron yang profit oriented  yang mengesampingkan dampak buruknya. Dan solusi bagi remaja sebagai konsumen televisi (khususnya sinetron). Kalimat yang perlu dicamkan bagi remaja adalah: Lawan dan kritisi televisi. Remaja perlu kritis dalam menyikapi tayangan televisi yang mereka tonton. Bila perlu bikin forum diskusi. Diskusikan sinetron-sinetron yang dianggap baik dan buruk. Lalu kirimkan opini tersebut ke media yang bersangkutan. (Rye^^,)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar