SEMA FIDKOM UIN SGD BANDUNG
Media Aspirasi Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung
Minggu, 19 Juni 2011
Derita TKW Indonesia
Indonesia kembali digegerkan dengan munculnya berita tentang kekerasan penganiayaan dan kasus kematian yang dialami oleh Tenaga Kerja Wanita (TKW). Isu yang sudah tak sing lagi bagi kita, karena kasus ini marak menghiasi media massa. Kasus-kasus penganiayaan yang terjadi pada TKW yang berada di luar negeri seperti di Malaysia, Arab Saudi, Korea, Libia dsb.
Alasan yang selalu dilontarkan mendulang rupiah demi rupiah untuk membantu perekonomian keluarga serta buaian kesuksesan menjadi magnet tersendiri yang menarik sebagian besar perempuan Indonesia untuk bekerja di negeri sebrang sana.
Padahal Indonesia merupakan negeri yang subur, negeri yang kaya raya. Sederet syair lagu “Kolam Susu” yang dipopulerkan oleh Koes Plus yang begitu melegenda merekam betapa kayanya betapa suburnya negeri kita indonesia tercinta ini.
Lagu itu tetap berlalu, tidak dihiraukan para perempuan untuk tetap memilih mengadu nasib bekerja di perantauan, tanpa menghiraukan derita apa yang akan mereka dapatkan. Padahal jika kita mengingat Perempuan bukanlah motor utama penggerak roda perekonomian keluarga melainkan laki-laki yang harus survive demi keluarga, sehingga perempuan sama sekali tidak memiliki kewajiban penuh untuk mencari nafkah bagi keluarga.
Lantas, siapakah sesungguhnya yang patut disalahkan dalam beragam kasus yang menimpa TKW di luar sana, Pemerintahkah? Negarakah? Atau dirinya pribadi?. Tidak akan kita temukan jawaban siapa yang bersalah dalam masalah ini. Namun, alangkah bijaknya jika pemerintah lebih membenahi masalah urgent ini agar tidak ada lagi korban berikutnya, ada kesadaran pula dari pribadi masing-masing agar tidak memaksakan diri untuk bekerja di luar negeri, juga negara ini dipelihara dan dijaga untuk kehidupan yang makmur dan sejahtera.(Rye^^,)
SINETRON DAN REMAJA
Kemunculan kebebasan pers di era Reformasi ini diikuti oleh kemunculan kebebasan bermedia pula, dengan munculnya siaran-siaran baru, acara-acara dengan format baru dalam dunia pertelevisian. Media elektronik televisi termasuk ke dalam media massa karena sifat informasinya yang konvergen. Informasi dapat diterima secara bersamaan oleh khalayak lebih dari satu orang. Menurut Jalaluddin Rakhmat, definisi komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. (Psikologi Komunikasi)
Dalam program televisi-televisi swasta acara-acara yang disuguhkan pun semakin kini semakin semarak dan beragam, mulai dari program berita hingga program televisi lainnya. Hampir secara keseluruhan program televisi diramu dan dirancang untuk menghibur pemirsa. Positifnya, pemirsa televisi pun mendapatkan banyak pilihan acara. Namun sayangnya, kebebasan juga berimbas kepada tidak terkontrolnya acara-acara yang disuguhkan. Mulai dari tidak terkontrol dalam jam penayangannya sampai kontrol mutu dari acara itu sendiri.
Televisi juga merupakan media komunikasi paling efektif untuk menyampaikan pesan dan mempengaruhi orang lain. Jika mengamati setiap keluarga yang ada, maka salah satu barang pokok yang ada di setiap keluarga adalah televisi. Saat ini, hampir seluruh keluarga memiliki televisi atau tidak akan sempurna juga ada sesuatu yang kurang bila di rumah kita tidak ada pesawat televisi. Dengan kata lain, akses informasi melalui televisi mampu diterima oleh hampir setiap keluarga yang memiliki televisi.
Beragam acara ditawarkan oleh stasiun televisi. Acara yang mendominasi di stasiun televisi adalah sinetron. Secara umum, hampir sebagian besar slot waktu stasiun TV didominasi oleh sinetron. Tayangan-tayangan sinetron yang notabene berisikan drama remaja dan drama rumah tangga ini dapat dikatakan sebagai “primadona”. Bahkan setiap stasiun televisi Indonesia dapat menayangkan minimal tiga hingga empat judul sinetron perharinya yang kesemuanya berisikan pamer harta, hura-hura, dan konflik keluarga yang tiada ujung bahkan cenderung mengada-ngada. Waktu penayangan sinetron mulai dari prime time atau waktu yang menjadi waktu utama hingga pagi hari ketika aktivitas luar rumah tinggi.
Penayangan sinetron di waktu utama memiliki berbagai implikasi terhadap masyarakat khususnya para remaja. Penonton disuguhkan dengan tayangan sinetron di waktu mereka memiliki kesempatan untuk menyaksikan televisi baik secara individu maupun bersama keluarga. Sehingga mungkin sekali sinetron untuk mencapai rating tinggi.
Ketika melihat merebaknya berbagai sinetron saat ini, disadari atau tidak kita sedang mengarah kepada pembentukan sistem nilai sesuai dengan apa yang ditampilkan di dalam sinetron tersebut. Ketika ditampilkan konflik si kaya dan miskin, seorang kaya dikesankan dengan kemewahan dan kekuasaan yang diukur dari banyaknya harta dan tingginya jabatan. Sedangkan si miskin ini hidup dengan seadanya dan kekurangan secara materi. Padahal kemiskinan itu tidak semata diukur dari materi saja. Hal tersebut seperti menyampaikan sistem nilai yang dibawa oleh kapitalisme bahwa siapa yang kaya dia adalah orang yang memiliki banyak harta. Hanya sedikit sinetron yang mengajarkan kekayaan hati. Sinetron ini menggambarkan kekayaan yang tidak diukur melalui harta semata-mata, seperti Si Doel dan Keluarga Cemara.
Beberapa jenis sinetron yang ada di TV Indonesia saat ini membawa dampak negatif bagi pemirsa. Tayangan yang membawa cerita mistik mengarahkan kepada keterbelakangan mental dan syirik terhadap Sang Maha Pencipta. Keterbelakangan mental dalam hal ini adalah menggambarkan betapa hebatnya jin dengan kekuatan-kekuatannya sehingga manusia seolah menjadi takut dan mendorong manusia takut.
Selain itu, jenis sinetron yang membawa dampak buruk adalah sinetron dengan unsur cinta yang kuat. Dalam hal ini sistem nilai kembali mengalir deras. Sepasang anak muda dibuat tidak berdaya dan putus asa karena dipisahkan dengan kekasihnya. Di antara persoalan hidup lain, cinta digambarkan sebagai sebuah persoalan hidup yang amat sulit. Tidak tampak usaha yang keras untuk bertahan hidup dan kerja keras dalam bertahan hidup.
Sifat sinetron yang mencerminkan kebudayaan pop yang ringan dan mudah dicerna tanpa harus berfikir telah membuat masyarakat Indonesia (dalam hal ini adalah remaja) memposisikan sinetron sebagai hiburan dan ajang untuk melihat trend yang berkembang dikalangan remaja.
Media massa merupakan dasar bagi apa yang disebut sebagai “industri budaya”. Semua pesan yang dipropagandakan oleh media massa membentuk kesadaran manusia dan membagi arti pesan tersebut kepada mereka, sehingga manipulasi pesan dalam media massa merupakan strategi yang efektif untuk menasehati dan memberikan pengawasan.
Bagi para remaja, sinetron memang rujukan hiburan yang menyenangkan. Tanpa harus kemana-mana mereka mendapatkan pelarian dari kepenatan dalam menjalankan hari-harinya. Mereka tidak menyadari bahwa televisi dapat merusak diri mereka karena dampak dari televisi tidak dapat dirasakan secara langsung, melainkan setahap-demi setahap.
Dalam usianya yang masih labil dan masih dalam tahap pencarian jati diri, televisi dapat menuntun para remaja untuk bertingkah laku serta bersifat seperti tayangan yang telah disuguhkan. Dengan bahasa lain remaja itu bersikap imitasi, sugesti serta identifikasi.
Yang perlu kita cermati dari sinetron adalah pengkondisian untuk membenarkan sesuatu yang salah atau tidak wajar. Apalagi dalam ilmu komunikasi berlaku azas di mana kesalahan bisa menjadi maklum jika diopinikan terus-menerus sebagai sesuatu yang benar dan wajar. Karena itulah dengan kondisi seperti ini maka budaya poplah yang mendorong sikap hedonis dan oportunis pun dapat menjadi benar. Efek inilah yang menyebabkan perubahan sosial pada remaja, dalam hal ini adalah perubahan tingkah laku
Tema-tema sinetron acara reality show yang bernafaskan religi mendorong orang untuk percaya bahwa ada makhluk selain jin dan manusia, yaitu turunan setan seperti pocong, hantu, dan kuntilanak. Padahal Allah menegaskan di dalam kitab suci Al-Qur’an bahwa Allah tidak menciptakan selain jin dan manusia. Allah berfirman “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”Adz Dzaariyaat : 56 Menimbulkan kesyirikan dengan percaya kepada selain Allah. Dan menyelesaikan masalah ghaib ini dengan perantara manusia yang memiliki kemampuan supranatural.
Film-film dengan tema religi juga sifatnya hanya mengejar profit semata dengan minim perhatian terhadap pesan yang disampaikan. Banyak sisi religi justru berbeda dengan ajaran agama itu sendiri. Sebagai contoh adalah adegan-adegan di dalam film religi berlabel hikmah. Film tersebut menampilkan balasan terhadap orang-orang yang telah berbuat kemunkaran di dunia. Padahal siksaan bagi orang-orang yang berbuat kemunkanran berada di akhirat. Artinya apa yang terjadi di dunia merupakan ujian dan azab dan tidak azab tersebut tidak selalu sebuha hubungan sebab akibat. Ada pula adegan yang menampilkan pegangan tangan antara laki-laki dan perempuan bukan mukhrim.
Tema Cinta dalam sinetron dan reality show, mengecilkan persoalan hidup sesungguhnya. Seolah di dunia ini masalah terbesar adalah persoalan cinta. Konflik yang terjadi pun seputar cinta. Padahal di Indonesia tema yang seharusnya diangkat adalah kondisi realita bangsa ini, yaitu masalah kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat. Agar masyarakat dapat memiliki daya juang untuk memperbaiki kondisi perekonomian.
Bangsa kita diajarkan untuk berpikir singkat (instan). Seolah ukuran kesuksesan seseorang diukur dari banyaknya harta yang dapat terlihat dari rumah megah, mobil mewah, dan istri yang cantik. Hal yang sering ditampilkan oleh sinetron adalah anak-anak muda dengan penampilan necis yang memiliki “harta” melimpah, rumah megah, dan memiliki posisi di puncak kariernya tanpa asal usul yang jelas. dak sesuai dengan kemyataan sehingga menimbulkan keputusasaan.
Secara umum sinetron hanya menjual fisik tanpa kualitas peran. Padahal insan seni adalah orang-orang yang menghargai karya seni dan mengemas karya tersebut menjadi sebuah tampilan yang menarik. Tetapi pada kenyataannya seni peran di dalam sinetron lebih mengedepankan tampilan fisik pemeran bukan pada kemampuan seni peran aktor dan artis. Seperti banyak wajah-wajah “impor” yang dominan di layar kaca sekarang ini. Banyak artis baru yang bermunculan tanpa memiliki kualitas dan hanya bermodal paras semata.
Dampak dari sinetron juga mendorong masyarakat berperilaku konsumtif. Derasnya adegan yang memberikan contoh gaya hidup mewah dan mengutamakan penampilan fisik. Mengesankan bangsa Indonesia bangsa yang makmur dan suka kemewahan. Tidak membawa budaya lokal bangsa atau pun budaya timur yang santun dan memiliki etika dalam berbusana sehingga terkikisnya dengan gaya busana barat yang terbuka. Berbeda implikasinya dengan apa yang akan diperoleh oleh remaja ABG. Kehidupan sebagian sinetron yang menampilkan kehidupan yang seperti di atas membawa remaja ke dalam kehidupan fantasi yang luar biasa, kehidupan dianggap mudah dan sederhana. Dalam usianya yang masih labil dan masih dalam tahap pencarian jati diri, televisi dapat menuntun para remaja untuk bertingkah laku serta bersifat seperti tayangan yang telah disuguhkan. Dengan bahasa lain remaja itu bersikap imitasi, sugesti serta identifikasi.
Bagi pihak televisi diharapkan agar lebih kreatif dalam memproduksi sinetron ataupun tayangan-tayangan lain agar dapat menghasilkan produk sinetron yang bersifat entertainment yang dapat memenuhi pundi-pundi uang mereka namun tetap berkualitas serta education oriented. Dalam hal ini pihak televisi diharapkan untuk memberi sedikit ruang kepada idealisme moral. Yang perlu kita cermati dari sinetron adalah pengkondisian untuk membenarkan sesuatu yang salah atau tidak wajar. Apalagi dalam ilmu komunikasi berlaku azas di mana kesalahan bisa menjadi maklum jika diopinikan terus-menerus sebagai sesuatu yang benar dan wajar. Karena itulah dengan kondisi seperti ini maka pengejawantahan budaya pop yang mendorong sikap hedonis dan oportunis pun dapat menjadi benar. Efek inilah yang menyebabkan perubahan sosial pada remaja, dalam hal ini adalah perubahan tingkah laku
Pemerintah juga diharapkan proaktif dalam penyelesaian masalah ini. Pertama, pemerintah harus lebih selektif lagi dalam memilih sinetron yang akan ditayangkan. Hingga hanya sinetron yang cerdas berkualitaslah yang dapat menembus saringan ini. Kedua, untuk mengukuhkan cara pertama, negara harus berani menolak sekularisme dan melawan kapitalisme. Mengapa melawan kapitalisme? Karena kapitalismelah yang mendukung pihak televisi dalam menayangkan sinetron-sinetron yang profit oriented yang mengesampingkan dampak buruknya. Dan solusi bagi remaja sebagai konsumen televisi (khususnya sinetron). Kalimat yang perlu dicamkan bagi remaja adalah: Lawan dan kritisi televisi. Remaja perlu kritis dalam menyikapi tayangan televisi yang mereka tonton. Bila perlu bikin forum diskusi. Diskusikan sinetron-sinetron yang dianggap baik dan buruk. Lalu kirimkan opini tersebut ke media yang bersangkutan. (Rye^^,)
Kamis, 09 Juni 2011
GOMBALISASI TELEVISI TERHADAP GAYA HIDUP ANAK
oleh ZAIUL KHAQ
Televisi adalah salah satu media hiburan dan informasi yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat kita. Kemampuan audiovisual telah membuat televisi unggul dibanding dengan media informasi lainnya. Namun kita perlu khawatir berkenaan dengan dampak negatif televisi. Melalui acara-acara yang miskin akan unsur edukatif, nilai-nilai buruk yang jauh dari standar moralitas dapat tertanam pada diri para pemirsa. Berkaitan dengan hal tersebut anak-anak merupakan kelompok paling rentan terkena pengaruh hal-hal buruk yang ditonjolkan melalui tayangan-tayangan televisi.
Akhir-akhir ini banyak bermunculan tayangan televisi yang asal jadi, bahkan tidak lagi mengindahkan unsur edukasi. Semestinya, acara-acara yang tidak memberikan kontribusi positif pada pemirsa harus dibatasi. Jika dilirik sepuluh tahun kebelakang, televisi masih memegang fungsi sebagaimana mestinya. Tapi kini, masyarakat terus-menerus dicekoki tayangan yang dapat merusak gaya hidup (life style). Betapa besar pengaruhnya, terlebih jika orang tua tidak mengontrol apa yang dilihat anaknya. Jangan dulu bangga jika anak kecil kita suka menonton film kartun, karena tak semua film kartun bisa dinikmati dan tidak sedikit film kartun yang mencontohkan adegan kekerasan.
Salah satu televisi swasta menayangkan sebuah film kartun yang sangat populer saat ini dengan menampilkan seorang anak laki-laki sebagai tokoh utamanya, dan nama anak itu dijadikan sebagai judul dari film kartun tersebut. Dalam film tersebut dia ditampilkan sebagai anak nakal yang selalu membuat kacau dan selalu merepotkan orang tuanya, dan menyukai wanita-wanita dewasa. Mungkin bagi beberapa orang film kartun tersebut menghadirkan kelucuan, tapi sadarkah kita karakter buruk yang dimiliki tokoh tersebut dapat tertanam dalam diri anak-anak yang menyaksikannya. Kekerasan juga sering menghiasi adegan-adegan yang terdapat dalam film-film kartun yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi. Tentunya tidak hanya film kartun saja yang berpeluang menanamkan hal-hal buruk pada diri anak. Beberapa tayangan yang menonjolkan unsur-unsur mistis juga bisa memberikan pengaruh yang tidak baik.
Mungkin ini imbas dari determinisme teknologi dan konvergensi media. Sebagai media komersil, tentunya tidak begitu mementingkan aspek normatif. Dilihat dari banyaknya stasiun televisi yang berlomba-lomba menciptakan acara-acara yang dikemas sedemikian rupa, seperti reality show. Tidak banyak stasiun televisi yang menayangkan acara-acara bertemakan sosial.
Sebagian masyarakat Indonesia masih terbelenggu dengan hal-hal yang sifatnya diikuti kebanyakan orang. Jika tidak mengikuti hal tersebut maka dikucilkan. Tanpa disadari dengan kita menonton film atau serial komedi, kita sering tertawa terbahak-bahak dengan adegan yang diperankan. Bahkan, saat ini bermunculan film-film yang menyesatkan. Seolah-olah penonton dibuat tak berdaya.
Tidak sedikit orang yang menghabiskan waktunya untuk menonton televisi. Karena suguhan acara yang menghibur, mereka tetap enjoy didepan layar televisi. Banyaknya tayangan yang asal jadi membuat miris anak-anak kecil yang sedini mungkin sudah diajarkan hal-hal yang tak mendidik.
Anehnya, acara-acara seperti serial komedi lebih dinikmati oleh para pemirsa. Padahal isinya tak sebagus acaranya. Yang dikedepankan adalah sosok dan lawakan semata. Bahkan dibarengi dengan adegan kasar dan kata-kata yang tak pantas. Meskipun ada stasiun televisi yang menampilkan bahwa properti yang digunakan terbuat dari bahan yang tidak berbahaya. Permasalahannya bukan pada alat yang tidak berbahaya itu, tapi adegan yang dilakukan memicu penonton untuk melakukan hal serupa.
Teori Kultivasi berasumsi bahwa media khususnya televisi merupakan sarana utama seseorang belajar tentang kehidupan (masyarakat) dan kultur yang melingkupinya. Melalui televisi pemirsa belajar kehidupan orang lain atau kultur (budaya) orang lain.
Harusnya Komisi Penyiaran Indonesia bertindak tegas mencegah dan menyensor tayangan-tayangan televisi yang tidak bermutu. Munculnya tayangan yang tidak bermutu bukan karena sudah tidak kreatif lagi, melainkan masyarakat Indonesia menyukai hal-hal yang demikian.
Lebih parahnya lagi, kini bukan pemirsa yang mengendalikan televisi, tapi televisi yang mengendalikan pemirsa. Seolah-olah enggan beranjak dari depan layar televisi. Ini karena tayangan tersebut sudah membius secara perlahan. Dulu, setiap sore menjelang maghrib anak-anak ramai-ramai pergi ke masjid, tapi kini berubah jadi memegang remote control secara asik mengganti channel yang disukai dan merasa puas setelah menonton tayangan tersebut.
Apa yang dilakukan seseorang pada penggunaan (uses) media untuk mendapatkan kepuasan (grativications) atas kebutuhan seseorang. Secara psikologis dan sosial, Uses And Grativications meneliti asal mula kebutuhan yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain.
Blumer dan Gurevitch menjelaskan bahwa khalayak dianggap aktif, komunikasi massa inisiatif untuk, memuaskan khalayak, media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhan khalayak. Khalayak adalah insan yang mengerti. Sementara, penilaian artikultural media massa harus ditangguhkan sebelum diteliti terlebih dahulu orientasi khalayak atau pemirsa.
Dengan kata lain, pemirsa jangan mudah digombali begitu saja dengan suguhan tayangan yang tidak ada manfaatnya. Dan harus pintar-pintar memnilih tayangan yang bisa memberikan inspirasi bagi diri kita. Terlebih orang tua, harus pandai-pandai mengawasi acara televisi yang dilihat anaknya yang masih kecil. Jangan mudah terpancing dengan tayangan yang menyampaikan pesan-pesan negatif melalui bahasa non verbal, maupun adegan.
Semestinya kita harus lebih cermat dan cerdas dalam memilih tayangan-tayangan televisi untuk ditonton. Tidak semua acara bisa memberikan pengaruh buruk. Masih ada tayangan-tayangan yang dapat memperkaya pengetahuan dan dapat dijadikan sebagai cermin dalam beretika. Karena itu kita harus selektif. Temani dan bimbing anak-anak ketika meyaksikan tayangan-tayangan kesukaan mereka. *(ZK)
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Jurnalistik semester 6
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Jumat, 03 Juni 2011
36 Pengurus Sema Fidkom Ikuti Pelantikan dan Up Grading
Sema Fidkom UIN Bandung-, Sebanyak 36 pengurus Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (SMF-DK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung periode 2011-2012 mengikuti pelantikan dan up grading di Gedung Z UIN, Rabu (6/4) lalu.
Acara yang dimulai sekitar pukul 13.00 WIB itu dihadiri Pembantu Dekan III, Drs. Ujang Saefullah, M.Si., Mantan ketua senat periode 2010-2011, Abdul Mujib, para ex-offcio, dan beberapa ketua himpunan mahasiswa dari fakultas dakwah dan komunikasi itu berjalan lancar dan sukses meskipun dekan fakultas dakwah dan komunikasi tidak bisa hadir.
Para pengurus yang mengenakan jas almamater dengan khidmat mengikuti ikrar dan janji pengurus. Selaras dengan tema acara tersebut, yakni Membangun Kepengurusan Senat Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang Profesional, Aspiratif, dan Demokratis. Setelah pelantikan usai, acara dilanjutkan dengan up grading yang dipimpin oleh Drs. Ujang Saefullah, M.Si.
Saat memberikan materi kepemimpinan, Ujang mengatakan, sebagai seorang pemimpin harus bisa menampung aspirasi yang disampaikan oleh anggotanya, memiliki abstract thinking, memiliki kecerdasan emosi (emotion question) dan kecerdasan spiritual (spiritual question), serta harus bisa memberikan manfaat kepada yang lain. Dan yang terpenting adalah dapat membagi waktu untuk kuliah dan berorganisasi.
Sementara, Ketua SMF-Dakwah dan Komunikasi, Yudi Rahman, merasa lega setelah dilantiknya pengurus senat yang baru, walaupun merasa kurang sempurna ketika beberapa pihak birokrasi tidak bisa hadir. Mengingat acara pelantikan itu bersamaan dengan rapat senat fakultas dakwah dan komunikasi. Namun, keinginan pengurus agar secepatnya dilantik sudah terlaksana.
Yudi berkomitmen, dalam kepengurusan senat sekarang akan lebih membawa ke ranah yang sifatnya intelektual, antara senat dan fakultas harus saling mengayomi dan mendukung kegiatan-kegiatan, sehingga diharapkan terjadi sinergi yang baik demi kemajuan fakultas dakwah dan komunikasi.
Rencananya dalam waktu dekat ini, menurut Yudi, pengurus senat akan mengadakan rapat kerja yang akan membahas program kerja dari masing-masing bidang, umumnya kepengurusan senat 2011-2012. Dari sembilan bidang yang terdiri atas bidang Pengembangan Aparatur Organisasi, Pengembangan Intelektual, Penegakan Kode Etik dan Akhlakul Karimah, Olahraga dan Seni, Pengembangan Pers Mahasiswa, Pengabdian Masyarakat, Kewirausahaan, Penelitian, dan bidang Jaringan Kemahasiswaan, bidang pers merupakan bidang yang diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih, bagi senat mahasiswa fakultas dakwah dan komunikasi.
Sehari setelah pelantikan, tepatnya hari kamis (7/4) lalu, senat mengadakan seminar tentang mengawal pluralisme dalam ke bhinekaan. Seminar yang bertempat di Gedung Pascasarjana Lantai 3 tersebut mengambil tema, “kotroversi dakwah ahmadiyah dalam berbagai perspektif; hukum, pemerintahan, sosial, dan kemasyarakatan”. Dihadiri oleh pengamat intelijen, Wawan H.Purwanto, pakar dakwah, Syukriadi Sambas. Sedangkan, dua narasumber tidak hadir, yakni Zafrullah Ahmad Pontoh (ketua umum jamaat ahmadiyah indonesia), dan Egi Sudjana (pakar hukum).
Yudi mengatakan, awalnya seminar tersebut hanya berkapasitas 150 peserta. Namun, animo dari peserta yang sangat besar, membuat peserta yang hadir mencapai lebih dari 200 peserta. Seminar yang bekerjasama dengan lingkar santri nusantara dan formasemata tersebut, merupakan bentuk kajian akademis untuk mahasiswa tentang pemahaman ahmadiyah dalam bentuk diskusi dan keilmuan. *(ZK)
Susunan Kepengurusan SEMA FIDKOM UIN SGD Bandung
Ketua Umum : Yudi Rahman
Sekretaris Umum : Rizal
Bendahara Umum : Ateng Mulyadi
Bidang I (Pengembangan Aparatur Organisasi)
Koordinator Bidang : Aziz
Sekretaris Bidang : Dendi Taufik Rahman
Anggota : Indriyanti
Anggota : Sutiawan
Anggota : Ade Siti
Bidang II (Pengembangan Intelektual)
Koordinator Bidang : Bayu Permana
Sekretaris Bidang : Enung Bahrul Ulumiah
Anggota : Ade Siti
Anggota : Eka Fitri
Bidang III (Penegakan Kode Etik dan Akhlakul Karimah)
Koordinator Bidang : Fitri
Sekretaris Bidang : Warnia
Anggota : Sri
Anggota :
Bidang IV (Olahraga dan Seni)
Koordinator Bidang : Ahmad Sanusi
Sekretaris Bidang : Efsha
Anggota : Ami
Anggota : Hidayatullah
Anggota : Zaenuddin
Bidang V (Pengembangan Pers Mahasiswa)
Koordinator Bidang : Ziaul Khaq
Sekretaris Bidang : Ryska Permatasari
Anggota : Sena Jumena
Anggota : Komal
Bidang VI (Pengabdian Masyarakat)
Koordinator Bidang : Ziyan
Sekretaris Bidang : Tamrin
Anggota : Risma Rusmalawati
Anggota : Rica Yolanda
Anggota : Reza
Bidang VII (Kewirausahaan)
Koordinator Bidang : Taufik Rahman
Sekretaris Bidang : Dais
Anggota : Karin
Anggota : Elma
Bidang VIII (Penelitian)
Koordinator Bidang : Kabul Hilmansyah
Sekretaris Bidang : Hamdin
Anggota : Gina
Bidang VIII (Jaringan Kemahasiswaan)
Koordinator Bidang : Maulana Nurdin
Sekretaris Bidang : Jajang Nurjaman
Anggota :
Assalamualaikum,,
Alhamdulillah, akhirnya Blog Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung telah rampung diterbitkan. Mudah-mudahan dengan adanya media ini mempermudah akses kepada teman-teman mahasiswa semua di lingkungan UIN khususnya dan kalangan mahasiswa lain dimanapun itu umumnya. Tentu saja kehadiran media ini masih banyak kekurangannya untuk itu kami memohon bantuannya untuk turut serta mengembangkannya ke arah yang lebih baik lagi..
Wassalam,,
Langganan:
Komentar (Atom)



